Apakah Keputihan Membatalkan Puasa Kita?

Apakah Keputihan membatalkan puasa? - Hai sobat bloggedewek, mungkin kalian bertanya-tanya seperti apakah keputihan bisa membatalkan puasa. Lalu apa hukumnya puasa bagi wanita yang sedang mengalami keputihan.

Mungkin kalau cewek soal haid atau menstruasi sudah tau semuanya, jika saat itu nggak boleh puasa tapi harus diganti dilain waktu selain bulan Ramadan.

Namun banyak yang bingung soal keputihan apakah boleh puasa atau juga bisa membatalkan puasa?.

Sebelumnya simak terlebih dahulu: Apakah pacaran membatalkan puasa?

Sebelumnya kita cari tahu dahulu hal-hal yang membatalkan puasa kita. Beberapa hal ini bisa jadi mungkin kita lakukan:

1. Makan dan minum dengan disengaja

Jadi apabila lupa asalkan tidak dilanjutkan ya nggak batal deh puasanya.

Jadi singkirkan jauh-jauh makanan dari meja saat siang hari ya...

2. Mengeluarkan sesuatu dari tubuh kita yang seharusnya tak dikeluarkan

Misalnya:
*. Donor darah
*. Muntah disengaja
*. Darah yang terus mengalir
*. Infus di rumah sakit.

3. Berhubungan badan



Kalo ini selain membatalkan, dosanya pun gede banget. Yang melakukan harus membayar denda puasa berturut-turut selama 2 bulan penuh. Jadi misal sudah puasa 50 hari tapi putus, maka harus mengulangi dari awal lagi. Sadis bukan?.

4. Mengeluarkan air mani bagi laki-laki

Jad bagi kalian yang masih jomblo yang suka mastubarsi eh onani, yang memicu keluarnya sperma itu bisa membatalkan puasa, walaupun tidak sedang berhubungan badan.

Hindari juga hal-hal yang memicu air mani keluar semisal nonton fim bokep saat puasa, melihat gambar cewek cantik atau beragam lainnya, karena saya tidak paham soal itu.

4 hal di atas sudah sangat jelas membatalkan puasa kita. Lalu apa hukumnya bagi wanita keputihan?.

Apakah keputihan juga termasuk membatalkan pahala puasa?.

Berikut ini beberapa penjelasan mengenai hukum keputihan berwarna coklat dalam islam.

Ada sesuatu hal tentang keputihan ini memang dialami oleh para wanita, terutama yang berada di daerah dengan tingkat kelembaban tinggi seperti di Indonesia.

Para ahli menyatakan bahwa keputihan ada yang terjadi dalam keadaan normal, saat vagina memproduksi cairan yang berwarna bening, tidak berbau, tidak berwarna, dan jumlahnya tak berlebihan.

Penyebab keputihan

Keputihan seringkali disebabkan oleh beberapa faktor seperti:

*. Faktor hormonal
*. Stres
*. Waktu tertentu seperti saat menjelang dan setelah haid
*. kelelahan berat
*. Seksualitas nya terangsang
*. hamil
*. Dan bisa juga karena engonsumsi obat-obat hormonal seperti pil KB.

Dalam hadits shahih Bukhari disebutkan, suatu waktu ada beberapa sahabat perempuan datang lalu bertanya kepada Aisyah perihal batasan berakhirnya haidh.

Beliau menjawab : Janganlah kalian tergesa-gesa (menetapkan akhir haidh) hingga kalian melihat cairan putih.

Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya fathul bari menjelaskannya bahwa cairan putih sebagaimana di sebut dalam hadits di atas menjadi salah satu tanda akhir dari waktu haidh.

Selain jenis keputihan di atas, ada pula keputihan yang terjadi dalam keadaan tidak normal, yang dipicu karena kuman penyakit dan bisa juga menyebabkan infeksi. Akibatnya, akan timbul gejala-gejala yang sangat mengganggu, seperti berubahnya warna cairan menjadi kekuningan hingga coklat kehijauan, jumlah berlebih, kental, begitu lengket, berbau tidak sedap, dan terasa sangat gatal atau panas.

Dalam khazanah Islam, keputihan jenis ini biasa disebut dengan cairan putih kekuningan (sufrah) dan atau cairan berwarna putih kekeruhan (kudrah).

Berhubungan dengan kedua hal di atas, dalam hadits shahih Bukhari disebutkan bahwa Sahabat bernama Ummu Atiyyah Ra bersabda bahwa Kami tidak menganggap al-kudrah dan as-sufrah sama dengan haid.



Berdasarkan kedua hadis tersebut dapat disimpulkan :

1. Hukum orang yang mengalami keputihan ≠ hukum orang yang mengalami menstruasi

Orang yang sedang keputihan tetap mempunyai kewajiban melaksanakan shalat dan puasa, serta tidak wajib mandi.

2. Cairan keputihan tersebut hukumnya najis sedang = hukumnya air kencing

Oleh karenanya, apabila ingin melaksanakan shalat, sebelum mengambil wudhu, harus istinja dan juga membersihkan badan atau pakaian yang terkena cairan keputihan terlebih dahulu.

Lalu jika cairan keputihan keluar terus-menerus, maka orang tersebut tetap wajib melaksanakan puasa walaupun salah satu syarat sahnya shalat tidak terpenuhi, yakni sucinya badan dan pakaian dari najis.

Untuk ibadah shalat Syafi’iyah, ketentuan itu juga dapat dilaksanakan dengan syarat diawali dengan proses membersihkan diri dan anunya, istinjak, wudlu lalu kemudian shalat.

Semoga pembahasan kali ini mengenai apakah keputihan membatalkan puasa sudah terjawab lengkap.

Yang mana intinya keputihan tidak sama dengan haid yaitu tidak membatalkan puasa.

Jangan lupa kunjungannya lagi ke blog bloggedewek ini ya... thanks.

Sumber :www.mui.or.id