Sisi Kelam Bisnis Qnet, Bukan Soal Penipuan Semata

Artikel ini bukan bercerita tentang review Qnet ataupun menjelek-jelekkan dari Qnet itu sendiri, melainkan ini cerita yang nyata, dan baru saja di alami oleh teman saya dari bisnis ini. Ini bukanlah soal penipuan tapi tentang.... (simak saja pembahasannya di bawah ini!).

Dia adalah anak lulusan SMA, tapi tidak ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, karena keterbatasan biaya dan pikiran memang sudah menjadi bagian dari takdirnya untuk bekerja.

Namun itu tak berjalan mulus, banyak orang yang sudah lulusan S2 aja masih belum punya pekerjaan, apalagi seperti dia yang baru lulusan SMA. Apalagi kan sekarang kebanyakan para perusahaan mematok seseorang untuk diterima bekerja adalah D3.

Tapi hal itu bukan menjadi penghalang baginya untuk mencari kerja. Diapun segera mencari kerja kemana-mana. Nah beruntung salah satu dari teman-teman mereka ada juga yang sudah bekerja dan dia ingin ikut bekerja di tempatnya.

Baca nih: Kenapa jaman sekarang cari kerja susah banget ya?, Bagaimana cara mengatasinya?

Dia (temannya) itu terlihat sukses, di sosial media nya dia sering memposting foto uang hasil gajinya, sering pergi ke sana kemari untuk bisnisnya. Hal itu juga yang membuat teman saya itu 100% bulat untuk ikut bekerja di tempatnya, apalagi katanya yang interview kerja dirinya sendiri. (Karena dia agak sedikit gugup saat interview, dan menjauhi pekerjaan yang ada interviewnya).

Karena kabarnya, temannya dia itu Bekerja di restoran bintang 5 di kota Surakarta, dan dia akan bekerja di tempat restoran yang masih merupakan bagian dari hotel tersebut. Dengan gaji 3000000 perbulan, itu sudah sangat cukup baginya untuk seorang pemula.

Namun saat saya hubungi temannya itu, dia mengatakan bekerja di salah satu PT di Surakarta , yang bergerak dalam bidang penjualan alat olahraga, dia pun menawarkan kepada saya untuk ditempatkan di bagian gudang.

Dari situlah saya mulai curiga, masa beda beda sih antara bercakap-cakap kepada satu orang dengan orang lainnya. Akhirnya yang tadinya saya ingin ikut bersamanya ke sana, saya tunda, tapi teman saya tetap ingin berangkat kesana. Ya udah saya biarkan dahulu dia berangkat, kalau memang menyenangkan saya suatu ketika akan menyusulnya.

Dia akhirnya pergi kesana, dan keesokan harinya interviewnya dilakukan. Disitu ada banyak sekali orang mungkin seratus lebih, dikumpulkan di sebuah tempat pertemuan di restoran tentu menjadikan ia sangat optimis untuk ikutan interview itu.

Namun demikian, setelah giliran dia di interview oleh temannya sendiri,bukannya di wawancarai atau apa tapi disuruh beli alat kesehatan senilai 8.5 juta. Karena ia tinggal di kost sementara, ia pun kembali ke kost-kostan, lalu mulai ragu dan merenung, masa ia sih bekerja harus bayar uang banyak banget dahulu.

Karena kost-kostan itu adalah tempat orang-orang yang bekerja seperti itu, dia akhirnya tanya-tanya tentang hal itu kepada rekan kost. Dan ia diminta bayar 200000 dulu dan minta bukti KTP asli sebagai DP. Ia pun mau memberikan kepada teman-teman kostnya.

Tapi setelah tahu, ini adalah kerja di Qnet, dia diberi alamat website Qnet dan disuruh mempelajarinya. Dan ia memang diharuskan untuk membeli produk tersebut dan nantinya harus bisa merekrut orang agar bisa mendapatkan uang. Sistem downline gitu.

Baca juga: Perusahaan yang memberikan gaji tertinggi kepada karyawannya di Indonesia

Dia bilang agar sukses adalah dengan cara meminta uang yang cukup banyak itu kepada orang tua, kalo tidak boleh, jual motornya, gadaikan sertifikat rumah, atau curi perhiasan orang tuanya. Temanya itu memberikan saran agar bisa membawa uang sebesar 8.5 juta itu dengan cara apapun.

Selain itu, untuk bisa mendapatkan downline, dia berpesan agar dalam memberikan informasinya diselewengkan. Misalnya bekerja di perusahaan ternama, gaji besar, mudah diterima, dan pokoknya yang menyenangkan, jangan bilang bekerja seperti itu.

Karena dia tahu ini bukanlah harapannya dan merasa telah ditipu, dan juga berfikir bahwa ini adalah bisnis yang haram, karena menipu orang lain cara kerjanya, dia menyesal, dan akhirnya ingin kembali ke rumahnya, namun selalu dihalang-halangi oleh temannya itu sendiri.

Akhirnya ia minggat walaupun KTP, uang, pakaian telah lenyap alias ditinggal. Ia pergi diam diam dan pulang dengan sisa uang yang dimilikinya. Ia masih beruntung karena ia tidak memberikan uang semuanya.

Setelah sampai di rumahnya, ia pun frustasi dan ia trauma setiap kali ada seseorang yang menawarkan kerja kepadanya. Ia takut tertipu yang kedua kalinya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Saya gak tau secara pasti mengenai sistem kerja Qnet itu seperti apa apakah benar-benar penipuan atau bukan. Soal qnet penipuan apa bukan, saya rasa secara naluri adalah bukan, karena sebenarnya barang barang qnet juga real, ini adalah MLM. Tapi entah ada unsur money game atau permainan uang atau tidak. Tapi kalau ada jelas sekali bahwa q net haram

Tapi saya rasa Qnet ini adalah perusahaan yang sudah menjelajah banyak negara. Namun yang jadi bingung disini, sesuatu yang mengharuskan untuk berbohong itu agar mendapatkan downline memang telah di atur dari atasnya atau memang hanya dilakukan oleh teman saya saja. Jadi, saya rasa sistem qnet itu MLM, namun cara kerja qnet (pelaku usahanya) inilah yang gak bisa dicontoh.

Jadi bagi kalian yang pernah ikut bisnis ini, apakah benar jika merekrut seseorang agar membohonginya biar mau jadi downlinenya atau tidak. Jadi beri saya informasi mengenai hal ini, kalian bisa memberi pendapat tentang bisnis Qnet di kolom komentar ya...

Sampai jumpa kembali di blog bloggedewek ini lain kali. Thanks.